.Wilayah indonesia merupakan wilayah pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia. Karena itu, sebagian wilayah indonesia memiliki potensi gempa. Menurut TEMPO.CO, dalam kurun Desember 2018-Februari 2019 aja udah ada 138 aktivitas gempa dari jabar hingga jatim. Lebih dari 90 % pusat gempa itu adanya di laut selatan jawa dan didominasi oleh kedalaman dangkal.

Namun ada juga gempa yang terjadi di darat, seperti 3 kejadian di wonosobo magnitudo 2,6-2,8 yang berpotensi merusak jika magnitudonya semakin besar ujar – Kepala Stasiun BMKG Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie.Dari kondisi itu, BMKG menilai masyarakat perlu memperkuat upaya mitigasi bencana.

“Dengan memahami sumber gempa dan potensi bencana maka masyarakat bisa memperkuat upaya mitigasi bencana, minimal untuk diri sendiri dan menggali informasi secara mandiri dari sumber yang terpercaya.” Sangat penting bagi masyarakat mendirikan bangunan tahan gempa.Tingkat risiko gempa ditentukan oleh dua faktor utama yaitu besarnya tingkat ancaman (hazard) dan besarnya tingkat kerentanan (vulnerability).

Desain Bangunan Rumah Tahan GEMPA

rumah-tahan-gempa

Besarnya gaya gempa yang diterima sebuah bangunan berbanding lurus dengan berat bangunan itu sendiri. Itu sebabnya penting untuk membuat bangunan menjadi lebih ringan dengan menggunakan bahan bangunan yang ringan. “Bahkan hunian tradisional Indonesia ternyata dirancang tahan gempa oleh para nenek moyang. Pemakaian struktur kayu dan bambu dengan atap memakai rumbia atau ijuk terbukti dapat bertahan ketika ada goncangan gempa,” katanya.

Pemakaian dinding beton aerasi (hebel) atau bata ringan juga lebih baik dari bata dan batako. Untuk atap juga sebaiknya dipakai rangka baja ringan dan genteng aspal atau seng gelombang. Dan pemakaian partisi dari gypsum atau GRC juga dapat membuat massa bangunan menjadi lebih ringan.

Selain itu, sistem konstruksi penahan beban pada rumah tahan gempa harus diperhatikan agar struktur pondasi, kolom, balok dan struktur atap menyatu dengan sambungan yang memadai. Untuk konstruksi kayu selain perlu tambahan struktur menyilang (bracing) harus dilengkapi dengan plat baja pengikat di setiap pertemuan sehingga menjamin fleksibilitas geraknya.Bangunan dengan struktur beton bertulang harus memakai tulangan yang tepat sesuai dengan perhitungan strukturnya, baik tulangan utama maupun begel atau sengkangnya.Sambungan antara kolom, pondasi dan sloof pun harus diperhatikan detailnya agar mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban gempa.

Sumber: tekno.tempo.com